Orang Terkaya Tolak PSBB Jakarta, Ekonom: Pandangan yang Salah

JAKARTA – Keputusan Pemprov DKI Jakarta menerapkan kembali kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti di awal pandemi Covid-19 menuai pro dan kontra dari kalangan dunia usaha. Protes itu datang dari orang terkaya Indonesia Budi Hartono menilai keputusan tersebut tidak tepat.

Menanggapi hal itu, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebut bila seorang pengusaha lebih mementingkan nilai ekonomi ketimbang kesehatan, maka itu merupaka pandangan yang salah. Sebab, bila ditilik lebih mendalam ketika PSBB transisi mengakibatkan kenaikan kasus Covid-19, perekonomian pun masih lesu.

“Ini pandangan yang salah, justru uji coba PSBB transisi dengan kasus positif yang tinggi membuat masyarakat tidak pede berbelanja. Mal dibuka, tapi tetap sepi,” kata Bhima saat dihubungi Okezone, Selasa (15/9/2020).

Baca Juga: Miliarder No 1 Indonesia Tolak PSBB DKI Jakarta, Terungkap Alasannya

Dia menjelaskan, berdasarkan data dari Google Mobility mencatat bahwa pergerakan masyarakat di Jakarta ke tempat-tempat retail dan rekreasi masih negatif -10%, ke tempat kerja -31% dan transportasi umum -42% per 11 September 2020.

“Ini indikasi yang sangat jelas, tanpa fokus terlebih dulu ke masalah kesehatan maka pemulihan ekonomi akan berjalan lebih lambat,” ujarnya.

 

Menurut dia, bila kasus Covid-19 menunjukan adanya penurunan maka, nantinya seseorang pun akan kembali percaya diri saat akan membelanjakan uangnya.

“Fokus ke disiplin yang lebih ketat, baru konsumen kelas menengah atas kembali berbelanja. Jangan di balik-balik logikanya,” kata dia.

1
2

Baca Juga Berita Polres Tulungagung dan Kapolres Tulungagung

SUMBER : okezone.com

Related posts