Partai Komunis China Tuntut Loyalitas Sektor Swasta

Partai Komunis China meminta sektor swasta menunjukan loyalitas mereka

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Partai Komunis China meminta sektor swasta menunjukan loyalitas mereka. Alasannya karena tantangan eksternal yang dihadapi perekonomian terbesar kedua di dunia itu kian besar, mulai dari sikap permusuhan Amerika Serikat (AS) hingga pandemi virus corona.

Presiden Xi Jinping sudah berulang kali berjanji untuk mendukung sektor-sektor penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan lapangan kerja. Namun dalam beberapa tahun terakhir Partai Komunis semakin mempererat cengkraman mereka ke sektor swasta.

Caranya dengan membeli saham atau mendirikan kantor pemerintah di perusahaan besar. Rabu (16/9) kantor berita Xinhua melaporkan pada Selasa (15/9) malam lalu Partai Komunis China merilis pedoman untuk para pengusaha.

Pedoman tersebut mengarahkan para pengusaha bagaimana menempatkan posisi mereka secara politis. Partai Komunis mengatakan dengan meningkatnya tantangan dan beragamnya nilai dan kepentingan pengusaha, maka para pengusaha harus ‘menjaga konsistensi yang tinggi’ dalam aspek posisi, arah, dan prinsip-prinsip partai.

“Kami harus membangun tim tulang punggung rakyat di ekonomi swasta yang dapat diandalkan dan digunakan pada momen-momen kritis,” kata Partai Komunis China dalam pedoman tersebut.  

Partai Komunis juga mendorong perusahaan-perusahaan swasta berpartisipasi dalam reformasi perusahaan negara dan inisiatif ‘Belt and Road’. Di saat yang sama partai juga berjanji memperbaiki lingkungan usaha untuk mereka.  

Sektor swasta China yang sebelumnya bergeliat kini kesulitan untuk keluar dari dampak ekonomi pandemi virus corona. Kondisi ini terjadi walau pemerintah sudah berjanji meningkatkan kredit, memotong pajak, dan membuka pintu lebih lebar lagi bagi sektor swasta di perekonomian yang didominasi negara.

Dosen bisnis China dan Asia Timur di King’s College London, Xin Sun, mengatakan pandemi dan semakin retaknya hubungan dengan Amerika membuat sektor swasta khawatir dengan status politik mereka. Hal ini membuat banyak pengusaha kehilangan keyakinan terhadap prospek perekonomian China.

“Juga masa depan kekuasaan Komunis, di saat yang sama partai masih membutuhkan kontribusi dari sektor swasta terutama di masa sulit, di berbagai ekonomi dan politik penting,” kata Sun.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Baca Juga Berita Polres Tulungagung dan Kapolres Tulungagung

SUMBER : republika.co.id

Related posts