AS Berharap Perancis, Turki Redakan Ketegangan

Pemerintah AS hari Selasa (27/10) berharap dua sekutu NATO, Perancis dan Turki, akan meredakan ketegangan yang meningkat terkait kebebasan untuk mengejek agama, sementara demonstrasi menentang Perancis dan imbauan untuk memboikot barang-barang buatan Perancis meningkat di negara-negara Muslim.

Ketegangan antara Perancis dan Turki belakangan semakin meningkat terkait komentar Presiden Perancis Emmanuel Macron mengenai kartun dan Islam pasca pemenggalan kepala seorang guru di Perancis.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Selasa mengatakan “Amerika sangat yakin perselisihan Aliansi yang tidak perlu hanya menguntungkan pihak musuh.”

Amerika tidak segera memberikan komentar lebih jauh mengenai perselisihan itu atau apa manfaat dari kecaman Turki terhadap Perancis.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah melancarkan tuduhan terhadap Presiden Perancis Emmanuel Macron dan mendukung seruan di dunia Islam untuk memboikot barang-barang Perancis.

Macron dengan tegas membela hak untuk kebebasan berekspresi, termasuk untuk mengejek agama, di tengah kebencian di Perancis atas pemenggalan kepala seorang guru sekolah yang menunjukkan kartun kontroversial Nabi Muhammad di kelasnya.

Menteri Dalam Negeri Perancis, Gerald Darmanin dalam sebuah wawancara di lembaga penyiaran Perancis, hari Selasa mengatakan, “Saya kira kita semua pasti terkejut bahwa kekuatan asing menganggap warga Muslim Perancis adalah urusan mereka. Apa hak kekuatan asing untuk mencampuri urusan dalam negeri Perancis?”

Banyak Muslim menganggap penggambaran nabi mereka, apalagi menyindir, sebagai penghujatan.

Hubungan kedua negara sebelumnya sudah memburuk dengan Macron blak-blakan memihak Yunani dan Siprus ketika Ankara menantang melakukan eksplorasi energi di perairan Laut Tengah yang disengketakan.

Turki juga berselisih dengan Amerika yang mengecam uji coba sistem pertahanan udara buatan Rusia oleh Ankara baru-baru ini sebagai tidak sesuai dengan komitmennya pada NATO. Tetapi Erdogan pada saat yang sama menjalin hubungan erat dengan Presiden Donald Trump.

Sementara itu di luar Perancis, kecaman dan imbauan boikot terhadap produk Perancis meningkat di negara-negara Muslim.

Di Bangladeh hari Selasa (27/10), puluhan ribu orang menggelar unjuk rasa anti-Perancis menyerukan boikot produk Perancis dan membakar patung Presiden Emmanuel Macron.

Polisi memperkirakan lebih dari 40.000 orang ikut dalam unjuk rasa yang diorganisir sebuah partai Islam.

Para pengunjuk rasa meneriakkan “Boikot Produk Perancis” dan menyerukan agar Macron dicekik.

Seorang pemimpin Islam senior di Bangladeh mengimbau pemerintahnya juga mengambil tindakan terhadap Perancis.

“Seperti halnya seluruh komunitas Muslim di seluruh dunia bersatu melawan pernyataan-pernyataan yng di dukung negara Perancis, otoritas Bangladesh juga harus melakukan hal yang sama dengan memboikot produk Perancis.”

Ratusan polisi memasang barikade kawat berduri di seberang jalan sekitar lima kilometer dari kedutaan Perancis untuk menghentikan demonstran bergerak ke sana.

Unjuk rasa itu diselenggarakan oleh Islami Andolan Bangladesh, salah satu partai Islam terbesar di negara mayoritas Muslim berpenduduk 168 juta orang itu.

Partai itu menyerukan lebih banyak protes nasional pada Kamis dan Jumat.

Perancis adalah mitra dagang utama Bangladesh yang pabrik garmennya membuat pakaian jadi bernilai miliaran dolar untuk sebuah merek Perancis.

Lafarge, pembuat semen top dunia, adalah salah satu investor terbesar Perancis di Bangladesh.

Kartun Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh surat kabar Denmark pada 2005 memicu protes besar-besaran di negara itu.

Ada beberapa insiden kekerasan Islamis di Bangladesh dalam beberapa tahun terakhir. Satu kelompok yang terkait dengan ISIS menewaskan setidaknya 17 orang asing, termasuk tujuh orang Italia dan sembilan orang Jepang, dalam serangan di sebuah kafe di Dhaka pada Juli 2016.

Di Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, kelompok yang menyebut diri Aksi Komite Perjuangan Umat bersama kelompok Islamis lainnya berencana mengadakan demonstrasi menuju Kedutaan Perancis, di Jakarta, Jumat 30 Oktober untuk mengecam dan mengimbau boikot terhadap produk Perancis. [my/jm]

Baca Juga Berita Polres Tulungagung dan Kapolres Tulungagung

SUMBER : voaindonesia.com

Related posts